Perlukah memiliki Asuransi Jiwa?

Hai sobat.. Apa kabar hari ini? Semoga sobat dan keluarga senantiasa di berikan kesehatan ya..

Apakah sobat tahu bahwa hidup manusia merupakan salah satu aset yang dapat mendatangkan pendapatan? Apakah sobat menyadari bahwa aset tersebut juga tidak jauh dari resiko seperti sakit dan cacat karena kecelakaan, atau bahkan meninggal dunia? Lalu apa yang akan terjadi jika manusia yang merupakan salah satu aset yang dapat mendatangkan pendapatan itu mendapatkan resiko seperti sakit, cacat, atau bahkan meninggal dunia?

Ya, jika seseorang sudah mendapatkan resiko seperti cacat dan kematian, maka membuat seseorang tersebut tidak mampu memperoleh penghasilan. Dan hal ini mengakibatkan pihak-pihak yang bergantung kepadanya (seperti istri, anak, atau kedua orang tua, kakak dan adik) akan mengalami kesulitan.

Sobat, mari kita perhatikan ilustrasi berikut ini:

Bapak X adalah seorang kepala keluarga berumur 30 tahun. Dia memiliki seorang istri yang bekerja sebagai ibu rumah tangga dan memiliki 2 orang anak masing-masing berumur 4 tahun dan 1 tahun. Bapak X bekerja di sebuah perusahaan swasta di daerah Jakarta. Setiap bulan Bapak X menerima gaji bersih (THP) sebesar 7 juta rupiah. Dari gajinya tersebut Bapak X menyisihkan uang sebesar 2 juta rupiah tiap bulan untuk tabungan & biaya pendidikan anak-anaknya.

15 tahun kemudian Bapak X terserang penyakit stroke yang mengakibatkan dia tidak bisa bekerja lagi. Hal ini juga menyebabkan Bapak X tidak bisa mendapatkan penghasilan. Selain itu, setoran 2 juta/bulan yang biasa dia lakukan untuk tabungan & biaya sekolah anak-anaknya pun otomatis terhenti.

Uang sebesar 2 juta rupiah yang dia sisihkan untuk menabung pun habis untuk biaya pengobatannya. Istrinya yang bekerja sebagai ibu rumah tangga pun mengalami kesulitan untuk mencari pekerjaan demi membiayai sekolah anak-anaknya.

Pelajaran yang bisa kita petik dari ilustrasi di atas adalah jika seandainya pada usia 30 tahun Bapak X membeli Asuransi Jiwa dengan menyisihkan dana sebesar kurang lebih 500 ribu ~ 1 juta rupiah untuk membayar premi, dan selain membeli asuransi dasar juga membeli rider critical illness (CI+), maka Bapak X akan mendapatkan uang pertanggungan sebesar 300 juta rupiah (maksimal 500 juta rupiah) pada saat Bapak X terdiagnosa terserang penyakit stroke. Uang pertanggungan tersebut bisa di gunakan untuk biaya pengobatannya. Untuk lebih detail, silakan membaca artikel tentang Allisya Protection Plus.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana jika Anda mengalami hal serupa yang di alami oleh Bapak X?

Apakah sobat sudah menyiapkan untuk masa depan Anda & keluarga jika terjadi hal-hal yang tidak inginkan seperti sakit, cacat bahkan meninggal dunia?

Dengan membeli produk Asuransi Jiwa dari sebuah perusahaan asuransi, berarti Anda sudah memindahkan resiko-resiko yang akan di terima ketika cacat karena kecelakaan, atau bahkan meninggal dunia ,ke perusahaan asuransi.

Dengan membeli produk Asuransi Jiwa, berarti Anda sudah menyiapkan kebutuhan finansial untuk keluarga Anda jikalau Anda mengalami situasi seperti Bapak X pada ilustrasi di atas.

Jika Anda tertarik untuk membeli produk asuransi jiwa yang saya tawarkan, silakan menghubungi saya pada kontak di bawah ini.

Salam,

JOhan| 0818 654 456 (Mobile & Whatsapp)5178D3DF (Blackberry Messenger)

Advertisements

3 thoughts on “Perlukah memiliki Asuransi Jiwa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s