Premi 400 ribu per bulan, Total UP 900 juta!

Pada postingan beberapa bulan lalu saya pernah memberikan promo Premi 355 ribu per bulan bisa mendapatkan UP 1 Miliar. Kini saya mencoba menawarkan kembali promo dengan premi yang begitu murah & jangka waktu pembayaran yang pendek, namun memberikan manfaat lebih dari satu manfaat dengan masing-masing UP lebih dari 200 juta sampai dengan usia 65-70 tahun.

Promo ini akan memberikan 3 buah manfaat sekaligus seperti Penyakit Kritis (UP: 300 juta), Cacat Total Permanen (UP: 300 juta) dan tentunya Meninggal Dunia (UP: 300 juta).

Manfaat sebanyak itu pasti preminya mahal ya?? Tentu tidak.. ūüôā

Mari kita lihat ilustrasi/proposal yang sudah saya siapkan berikut ini: Baca selengkapnya…

Asuransi Jiwa vs Asuransi Pendidikan

Saya pernah menawarkan asuransi jiwa kepada seorang teman, namun teman saya tersebut menolaknya dan dia lebih mencari asuransi pendidikan untuk anak-anaknya kelak.

Well, berbicara mengenai asuransi pendidikan dan asuransi jiwa, mana sih sebenarnya yang lebih utama, Asuransi Jiwa atau Asuransi Pendidikan?

Mari kita sama-sama lihat beberapa skenario berikut ini: Baca selengkapnya…

Term Life vs Unit Link

Salah-Kaprah-Asuransi-Unit-LinkMungkin Anda sering mendengar atau membaca di forum-forum perencanaan keuangan banyak yang berpendapat sebaiknya di bedakan antara proteksi dengan investasi (tabungan). Dengan kata lain berasuransilah dengan asuransi murni (term life) dan berinvestasilah di tempat investasi (reksadana, saham, logam mulia, dll).

Berikut beberapa catatan perihal wacana Term Life vs Unit Link: Baca selengkapnya…

Menentukan Prioritas Asuransi

keluarga-sejahtera

Asuransi berfungsi menanggung hal-hal yang secara finansial tidak sanggup kita tanggung, atau akan terasa berat jika harus menanggungnya sendirian. Jika sesuatu masih sanggup kita tanggung, maka hal tersebut tidak perlu diasuransikan, atau setidaknya bukan prioritas.

Prioritas asuransi diukur dari dampaknya pada keuangan kita, bukan dari frekuensi kejadiannya. Ada yang kejadiannya sering, misalnya pilek atau batuk biasa, tapi karena dampak keuangannya kecil, tanpa asuransi pun tak masalah. Tapi ada peristiwa yang kejadiannya mungkin hanya sekali, namun bekas yang ditinggalkannya tak terhapuskan seumur hidup, baik dari segi fisik maupun keuangan.

Jika akibat dari satu kejadian itu membuat seseorang langsung jatuh dalam kemiskinan, aset-aset terjual atau tergadai, terjerat dalam belitan utang, sumber penghasilan terputus, hingga keluarga terbenam dalam kesedihan dan kehinaan, maka risiko itulah yang harus kita prioritaskan untuk diasuransikan.

Ketika kita memutuskan untuk berasuransi, berpikirlah ‚Äď walau sejenak saja ‚Äď untuk risiko-risiko yang paling buruk. Yaitu risiko-risiko yang butuh biaya sangat besar.

Apa sajakah itu? Baca selengkapnya…

Perlukah seorang Ibu Rumah Tangga memiliki Asuransi Jiwa?

Apakah Anda sudah membaca artikel pada blog ini yang berjudul Perlukah memiliki Asuransi Jiwa? yang di tulis beberapa waktu lalu? Pada artikel tersebut penulis memberikan ilustrasi tentang seorang Ayah yang menjadi tulang punggung keluarga sangat perlu memiliki Asuransi Jiwa demi masa depan dirinya dan keluarganya.

Lalu pertanyaannya, apakah Asuransi Jiwa hanya di tujukan untuk seorang Ayah yang menjadi tulang punggung keluarga? Apakah seorang ibu rumah tangga juga perlu punya Asuransi Jiwa seperti seorang ayah?¬†Mari kita simak penjelasan menurut sudut pandang penulis. Baca selengkapnya…

Bagaimana menentukan santunan meninggal dunia?

Menentukan jumlah uang pertanggungan atau santunan meninggal dunia dalam asuransi jiwa tidak ada aturan yang baku. Saya sebagai seorang Financial Consultant tidak boleh memaksa seseorang dalam menentukan uang pertanggungan. Namun saya memiliki kewajiban untuk memberikan gambaran berapa jumlah yang sebaiknya bisa seorang nasabah ambil.

1. Menghitung penghasilan tulang punggung keluarga.
Cara pertama adalah menghitung penghasilan perbulan di kali 12 (bulan) lalu di kali 10 (tahun). Contoh : Seorang ayah berpenghasilan 5 juta perbulan. Maka 5 juta dikali 12 bulan di kali 10 tahun. Maka jumlah yang dihasilkan adalah 600 juta. Angka inilah yang bisa dijadikan acuan oleh seseorang menentukan jumlah uang pertanggungan. Hal ini dilakukan, jika nasabah berfungsi sebagai tulang punggung keluarga, kemudian entah esok atau lusa nasabah tersebut meninggal dunia. Maka penghasilan yang biasa didapatkan oleh nasabah tersebut tidak ikut meninggal paling tidak selama 10 tahun ke depan.

2. Menghitung aset + hutang yang dimiliki
Sementara cara yang kedua ini biasanya di pilih jika seseorang yang memiliki hutang, dengan harapan jika esok lusa meninggal, selain dia meninggalkan warisan untuk keluarga, uang pertanggungannya yang di peroleh juga bisa digunakan untuk melunasi hutang-hutangnya.

Contoh : Seorang ayah punya aset rumah, kendaraan, dan lain sebagainya dengan total 500 juta. Pada saat yang sama ayah juga punya hutang ke bank sejumlah 500 juta untuk modal usaha. Maka uang pertanggungan atau santunan meninggal dunia yang di ambil adalah 1 miliar. 500 juta akan digunakan untuk bayar hutang, dan 500 juta lagi digunakan untuk warisan berupa uang di luar harta nya tadi.

Pertanyannya sekarang adalah apakah Allisya Protection Plus bisa memberikan uang pertanggungan sebesar 1 Miliar rupiah?? Tentu saja bisa. Silakan baca artikel Premi 355 Juta per bulan UP 1 Miliar!

Salam,

JOhan| 0818 654 456 (Mobile & Whatsapp) | 5178D3DF (Blackberry Messenger)

5 Hal Penting yang Bisa Hilang dari Hidup Manusia

Mungkin sobat setuju bahwa tidak ada orang yang rela uangnya hilang. Tapi tahukah Sobat, jika salah langkah maka ada lima hal penting yang bisa hilang dari hidup manusia. Apa sajakah itu? Mari kita perhatikan terlebih dahulu ilustrasi berikut ini:

Ada seorang kepala keluarga usia 30-an tahun, kita sebut saja Tuan X. Tuan X memiliki asuransi jiwa murni yang menanggung risiko meninggal dunia dengan UP jiwa 1 miliar. Dia juga mengambil rider kesehatan untuk diri dan keluarganya, plan kamar 500rb per hari. Selain itu, dia pun rutin berinvestasi di reksadana sebesar 1 juta per bulan. Dia sudah melakukannya selama 5 tahun, dan kini uangnya hampir 100 juta.

Dari fakta ini, jelas bahwa Tuan X adalah seorang yang telah sadar berasuransi dan berinvestasi. Bahkan dipisah pula, sesuai saran para perencana keuangan.

Tapi ada satu yang dia lewatkan: proteksi penyakit kritis! Baca selengkapnya…