Bagaimana menentukan santunan meninggal dunia?

Menentukan jumlah uang pertanggungan atau santunan meninggal dunia dalam asuransi jiwa tidak ada aturan yang baku. Saya sebagai seorang Financial Consultant tidak boleh memaksa seseorang dalam menentukan uang pertanggungan. Namun saya memiliki kewajiban untuk memberikan gambaran berapa jumlah yang sebaiknya bisa seorang nasabah ambil.

1. Menghitung penghasilan tulang punggung keluarga.
Cara pertama adalah menghitung penghasilan perbulan di kali 12 (bulan) lalu di kali 10 (tahun). Contoh : Seorang ayah berpenghasilan 5 juta perbulan. Maka 5 juta dikali 12 bulan di kali 10 tahun. Maka jumlah yang dihasilkan adalah 600 juta. Angka inilah yang bisa dijadikan acuan oleh seseorang menentukan jumlah uang pertanggungan. Hal ini dilakukan, jika nasabah berfungsi sebagai tulang punggung keluarga, kemudian entah esok atau lusa nasabah tersebut meninggal dunia. Maka penghasilan yang biasa didapatkan oleh nasabah tersebut tidak ikut meninggal paling tidak selama 10 tahun ke depan.

2. Menghitung aset + hutang yang dimiliki
Sementara cara yang kedua ini biasanya di pilih jika seseorang yang memiliki hutang, dengan harapan jika esok lusa meninggal, selain dia meninggalkan warisan untuk keluarga, uang pertanggungannya yang di peroleh juga bisa digunakan untuk melunasi hutang-hutangnya.

Contoh : Seorang ayah punya aset rumah, kendaraan, dan lain sebagainya dengan total 500 juta. Pada saat yang sama ayah juga punya hutang ke bank sejumlah 500 juta untuk modal usaha. Maka uang pertanggungan atau santunan meninggal dunia yang di ambil adalah 1 miliar. 500 juta akan digunakan untuk bayar hutang, dan 500 juta lagi digunakan untuk warisan berupa uang di luar harta nya tadi.

Pertanyannya sekarang adalah apakah Allisya Protection Plus bisa memberikan uang pertanggungan sebesar 1 Miliar rupiah?? Tentu saja bisa. Silakan baca artikel Premi 355 Juta per bulan UP 1 Miliar!

Salam,

JOhan| 0818 654 456 (Mobile & Whatsapp) | 5178D3DF (Blackberry Messenger)

Advertisements

5 Hal Penting yang Bisa Hilang dari Hidup Manusia

Mungkin sobat setuju bahwa tidak ada orang yang rela uangnya hilang. Tapi tahukah Sobat, jika salah langkah maka ada lima hal penting yang bisa hilang dari hidup manusia. Apa sajakah itu? Mari kita perhatikan terlebih dahulu ilustrasi berikut ini:

Ada seorang kepala keluarga usia 30-an tahun, kita sebut saja Tuan X. Tuan X memiliki asuransi jiwa murni yang menanggung risiko meninggal dunia dengan UP jiwa 1 miliar. Dia juga mengambil rider kesehatan untuk diri dan keluarganya, plan kamar 500rb per hari. Selain itu, dia pun rutin berinvestasi di reksadana sebesar 1 juta per bulan. Dia sudah melakukannya selama 5 tahun, dan kini uangnya hampir 100 juta.

Dari fakta ini, jelas bahwa Tuan X adalah seorang yang telah sadar berasuransi dan berinvestasi. Bahkan dipisah pula, sesuai saran para perencana keuangan.

Tapi ada satu yang dia lewatkan: proteksi penyakit kritis! Baca selengkapnya…

5 Fungsi Asuransi Jiwa

1. Membantu Keluarga Dari Kehilangan Penghasilan

Ini fungsi pokok dari asuransi jiwa. Selama kita punya tanggungan nafkah (pasangan, anak-anak), selama itu pula kita masih butuh asuransi jiwa.

Agar asuransi jiwa mampu memainkan fungsinya sebagai ganti penghasilan, maka uang pertanggungan (UP) jiwa harus cukup besar untuk memberikan bunga/retur sebesar gaji per bulan jika didiamkan di deposito, obligasi/sukuk, atau reksadana pendapatan tetap.

2. Membantu Keluarga Terbebas Dari Beban Hutang.

Mungkin rumah yang kita tempati, kendaraan yang kita pakai, barang-barang yang kita miliki, dan lain-lain, sebagian atau seluruhnya diambil dari hutang. Hutang adalah warisan terburuk yang mungkin diberikan seorang suami dan ayah. Hutang bukan hanya membebani keluarga yang ditinggalkan, tapi juga orang yang mewariskannya, sebab di akhirat pun hutang tidak akan dianggap lunas begitu saja.

Agar asuransi jiwa berperan membebaskan keluarga dari hutang, maka UP jiwa minimal harus sama besar dengan hutang yang dimiliki keluarga itu. Baca selengkapnya…

Perlukah memiliki Asuransi Jiwa?

Hai sobat.. Apa kabar hari ini? Semoga sobat dan keluarga senantiasa di berikan kesehatan ya..

Apakah sobat tahu bahwa hidup manusia merupakan salah satu aset yang dapat mendatangkan pendapatan? Apakah sobat menyadari bahwa aset tersebut juga tidak jauh dari resiko seperti sakit dan cacat karena kecelakaan, atau bahkan meninggal dunia? Lalu apa yang akan terjadi jika manusia yang merupakan salah satu aset yang dapat mendatangkan pendapatan itu mendapatkan resiko seperti sakit, cacat, atau bahkan meninggal dunia?

Ya, jika seseorang sudah mendapatkan resiko seperti cacat dan kematian, maka membuat seseorang tersebut tidak mampu memperoleh penghasilan. Dan hal ini mengakibatkan pihak-pihak yang bergantung kepadanya (seperti istri, anak, atau kedua orang tua, kakak dan adik) akan mengalami kesulitan.

Sobat, mari kita perhatikan ilustrasi berikut ini:

Bapak X adalah seorang kepala keluarga berumur 30 tahun. Dia memiliki seorang istri yang bekerja sebagai ibu rumah tangga dan memiliki 2 orang anak masing-masing berumur 4 tahun dan 1 tahun. Bapak X bekerja di sebuah perusahaan swasta di daerah Jakarta. Setiap bulan Bapak X menerima gaji bersih (THP) sebesar 7 juta rupiah. Dari gajinya tersebut Bapak X menyisihkan uang sebesar 2 juta rupiah tiap bulan untuk tabungan & biaya pendidikan anak-anaknya.

15 tahun kemudian Bapak X terserang penyakit stroke yang mengakibatkan dia tidak bisa bekerja lagi. Hal ini juga menyebabkan Bapak X tidak bisa mendapatkan penghasilan. Selain itu, setoran 2 juta/bulan yang biasa dia lakukan untuk tabungan & biaya sekolah anak-anaknya pun otomatis terhenti.

Uang sebesar 2 juta rupiah yang dia sisihkan untuk menabung pun habis untuk biaya pengobatannya. Istrinya yang bekerja sebagai ibu rumah tangga pun mengalami kesulitan untuk mencari pekerjaan demi membiayai sekolah anak-anaknya.

Pelajaran yang bisa kita petik dari ilustrasi di atas adalah Baca selengkapnya..

Allisya Protection Plus

Allisya Protection Plus atau disebut juga Tapro Allisya atau Tapro Syariah adalah sebuah program asuransi jiwa yang dipadukan dengan investasi berbasis syariah. Tapro Allisya menginvestasikan dana nasabah pada instrumen-instrumen investasi yang halal dan bersih. Tapro Allisya memberikan perlindungan yang maksimal dari berbagai sisi dengan premi yang minimal.

Keunggulan

  1. Akadnya tolong-menolong (ta’awun) antara sesama peserta (prinsip risk sharing), sehingga insya Allah bernilai ibadah.
  2. Masa perlindungan jiwa berlaku seumur hidup (sampai menjelang usia 100 tahun).
  3. Uang Pertanggungan yang maksimal, baik untuk asuransi dasar maupun rider, dengan premi yang minimal.
  4. UP jiwa 1,2 miliar tidak dikenakan medical check up.
  5. Menanggung 49 penyakit kritis.
  6. Klaim penyakit kritis tidak mensyaratkan masa bertahan hidup (survival period).
  7. Klaim sakit kritis yang mudah; UP bisa langsung cair begitu pertama kali terdiagnosis 1 dari 49 penyakit kritis, tanpa harus menjalani perawatan dulu.

Baca selengkapnya…