5 Fungsi Asuransi Penyakit Kritis

Asuransi penyakit kritis (Critical Illness) memiliki 5 fungsi:

1. Membiayai pengobatan penyakit kritis.
2. Membiayai perawatan setelah pengobatan penyakit kritis
3. Mengganti penghasilan yang hilang selama atau karena tidak bisa bekerja lagi
4. Mencegah kehilangan aset dan jeratan utang.
5. Memelihara kepercayaan diri.

Uang pertanggungan penyakit kritis mungkin memenuhi empat fungsi pertama, mungkin pula beberapa fungsi saja, atau mungkin saja satu fungsi pun tidak tercukupi. Oleh karena itu, UP proteksi penyakit kritis harus besar, lebih besar dari biaya untuk berobat, dan masih ada sisanya untuk biaya perawatan lanjutan, mengganti penghasilan, dan membayar utang (jika sebelumnya terpaksa berutang). Semua itu bermanfaat membawa seseorang pada fungsi kelima: terjaganya kepercayaan diri karena terhindar dari perasaan membebani orang lain.

Berapa UP penyakit kritis yang ideal? Baca selengkapnya…

Advertisements

Pembayaran Klaim Sakit Kritis 1 Miliar Oleh Allianz

Pemb. Klaim Asuransi Rp. 1.004.268.494Allianz kembali membuktikan komitmennya dengan membayarkan klaim sebesar 1 Miliar kepada nasabah yang berusia 47 tahun karena terdiagnosa serangan jantung pertama (salah satu dari 49 penyakit kritis) pada saat polisnya baru berusia 2 tahun. Selain itu Allianz juga membayarkan preminya sebesar 42 juta/tahun sampai dengan nasabah berusia 65 tahun (rider payor benefit). Jika di lihat dari besarnya premi yang di bayarkan oleh Allianz sebesar 42 juta/tahun, maka premi per bulan dari nasabah tersebut sebesar 3,5 juta rupiah. Jika klaim sudah cair ketika polis berusia 2 tahun, berarti total premi yang sudah di bayarkan oleh nasabah tersebut adalah 84 juta rupiah. Artinya, andai saja nasabah tersebut tidak polis asuransi jiwa di Allianz dan tidak membeli rider critical illness, ada kemungkinan dia harus rela menggunakan tabungannya tersebut (bahkan mungkin juga seluruh asetnya) untuk membayar biaya operasi/tindakan/pengobatan di rumah sakit yang besarnya mungkin lebih dari 84 juta.

Bagaimana dengan Anda sobat? Apakah Anda sudah memiliki polis yang meng-cover penyakit kritis? Hubungi saya jika Anda ingin memilikinya, atau bahkan hanya sekedar diskusi/sharing. 🙂

Salam,

JOhan|   0818 654 456 (Mobile & Whatsapp)5178D3DF (Blackberry Messenger)

Bagaimana Jika Suatu Saat Anda Terdiagnosa Penyakit Kritis?

Sobat pembaca, apakah Anda yakin bahwa Anda tidak akan terdiagnosa Penyakit Kritis seperti Kanker, Stroke, Serangan Jantung, Gagal Ginjal dan penyakit kritis lainnya?

Bagaimana jika suatu saat Anda mengalami gangguan dan pergi periksa ke dokter, lalu setelah beberapa pemeriksaan dokter menyatakan bahwa Anda terdiagnosa salah satu dari penyakit kritis di atas? Dan tidak hanya itu, bagaimana jika dokter mengatakan bahwa Anda harus segera di operasi untuk proses penyembuhan yang membutuhkan biaya paling tidak 500 juta – 1 Miliar?

Mana yang Anda pilih:

1. Mencairkan seluruh tabungan Anda yang merupakan hasil kerja keras dan jerih payah Anda selama bertahun-tahun? Apakah Anda rela seluruh aset yang Anda punya harus ikut di jual karena ternyata tabungan Anda pun tidak cukup untuk membiayai pengobatannya?

Atau….

2. Allianz yang akan membayarnya untuk Anda sehingga tabungan dan seluruh aset Anda tidak berkurang?

Mungkin kini Anda bertanya, masa sih Allianz bisa membayar pengobatan penyakit kritis yang biayanya mencapai 1 Miliar? Tentu saja bisa, dengan catatan sobat pembaca terdiagnosa 1 dari 49 penyakit kritis setelah 90 hari dari masa berlaku polis.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, sobat pembaca bisa melihat ilustrasinya disini atau bisa langsung menghubungi saya pada kontak di bawah.. 🙂

Salam,

JOhan|  0818 654 456 (Mobile & Whatsapp)5178D3DF (Blackberry Messenger)

Term Life vs Unit Link

Salah-Kaprah-Asuransi-Unit-LinkMungkin Anda sering mendengar atau membaca di forum-forum perencanaan keuangan banyak yang berpendapat sebaiknya di bedakan antara proteksi dengan investasi (tabungan). Dengan kata lain berasuransilah dengan asuransi murni (term life) dan berinvestasilah di tempat investasi (reksadana, saham, logam mulia, dll).

Berikut beberapa catatan perihal wacana Term Life vs Unit Link: Baca selengkapnya…

Menentukan Prioritas Asuransi

keluarga-sejahtera

Asuransi berfungsi menanggung hal-hal yang secara finansial tidak sanggup kita tanggung, atau akan terasa berat jika harus menanggungnya sendirian. Jika sesuatu masih sanggup kita tanggung, maka hal tersebut tidak perlu diasuransikan, atau setidaknya bukan prioritas.

Prioritas asuransi diukur dari dampaknya pada keuangan kita, bukan dari frekuensi kejadiannya. Ada yang kejadiannya sering, misalnya pilek atau batuk biasa, tapi karena dampak keuangannya kecil, tanpa asuransi pun tak masalah. Tapi ada peristiwa yang kejadiannya mungkin hanya sekali, namun bekas yang ditinggalkannya tak terhapuskan seumur hidup, baik dari segi fisik maupun keuangan.

Jika akibat dari satu kejadian itu membuat seseorang langsung jatuh dalam kemiskinan, aset-aset terjual atau tergadai, terjerat dalam belitan utang, sumber penghasilan terputus, hingga keluarga terbenam dalam kesedihan dan kehinaan, maka risiko itulah yang harus kita prioritaskan untuk diasuransikan.

Ketika kita memutuskan untuk berasuransi, berpikirlah – walau sejenak saja – untuk risiko-risiko yang paling buruk. Yaitu risiko-risiko yang butuh biaya sangat besar.

Apa sajakah itu? Baca selengkapnya…

Perlukah seorang Ibu Rumah Tangga memiliki Asuransi Jiwa?

Apakah Anda sudah membaca artikel pada blog ini yang berjudul Perlukah memiliki Asuransi Jiwa? yang di tulis beberapa waktu lalu? Pada artikel tersebut penulis memberikan ilustrasi tentang seorang Ayah yang menjadi tulang punggung keluarga sangat perlu memiliki Asuransi Jiwa demi masa depan dirinya dan keluarganya.

Lalu pertanyaannya, apakah Asuransi Jiwa hanya di tujukan untuk seorang Ayah yang menjadi tulang punggung keluarga? Apakah seorang ibu rumah tangga juga perlu punya Asuransi Jiwa seperti seorang ayah? Mari kita simak penjelasan menurut sudut pandang penulis. Baca selengkapnya…