Menentukan Prioritas Asuransi

keluarga-sejahtera

Asuransi berfungsi menanggung hal-hal yang secara finansial tidak sanggup kita tanggung, atau akan terasa berat jika harus menanggungnya sendirian. Jika sesuatu masih sanggup kita tanggung, maka hal tersebut tidak perlu diasuransikan, atau setidaknya bukan prioritas.

Prioritas asuransi diukur dari dampaknya pada keuangan kita, bukan dari frekuensi kejadiannya. Ada yang kejadiannya sering, misalnya pilek atau batuk biasa, tapi karena dampak keuangannya kecil, tanpa asuransi pun tak masalah. Tapi ada peristiwa yang kejadiannya mungkin hanya sekali, namun bekas yang ditinggalkannya tak terhapuskan seumur hidup, baik dari segi fisik maupun keuangan.

Jika akibat dari satu kejadian itu membuat seseorang langsung jatuh dalam kemiskinan, aset-aset terjual atau tergadai, terjerat dalam belitan utang, sumber penghasilan terputus, hingga keluarga terbenam dalam kesedihan dan kehinaan, maka risiko itulah yang harus kita prioritaskan untuk diasuransikan.

Ketika kita memutuskan untuk berasuransi, berpikirlah – walau sejenak saja – untuk risiko-risiko yang paling buruk. Yaitu risiko-risiko yang butuh biaya sangat besar.

Apa sajakah itu? Baca selengkapnya…

Advertisements

Perlukah memiliki Asuransi Jiwa?

Hai sobat.. Apa kabar hari ini? Semoga sobat dan keluarga senantiasa di berikan kesehatan ya..

Apakah sobat tahu bahwa hidup manusia merupakan salah satu aset yang dapat mendatangkan pendapatan? Apakah sobat menyadari bahwa aset tersebut juga tidak jauh dari resiko seperti sakit dan cacat karena kecelakaan, atau bahkan meninggal dunia? Lalu apa yang akan terjadi jika manusia yang merupakan salah satu aset yang dapat mendatangkan pendapatan itu mendapatkan resiko seperti sakit, cacat, atau bahkan meninggal dunia?

Ya, jika seseorang sudah mendapatkan resiko seperti cacat dan kematian, maka membuat seseorang tersebut tidak mampu memperoleh penghasilan. Dan hal ini mengakibatkan pihak-pihak yang bergantung kepadanya (seperti istri, anak, atau kedua orang tua, kakak dan adik) akan mengalami kesulitan.

Sobat, mari kita perhatikan ilustrasi berikut ini:

Bapak X adalah seorang kepala keluarga berumur 30 tahun. Dia memiliki seorang istri yang bekerja sebagai ibu rumah tangga dan memiliki 2 orang anak masing-masing berumur 4 tahun dan 1 tahun. Bapak X bekerja di sebuah perusahaan swasta di daerah Jakarta. Setiap bulan Bapak X menerima gaji bersih (THP) sebesar 7 juta rupiah. Dari gajinya tersebut Bapak X menyisihkan uang sebesar 2 juta rupiah tiap bulan untuk tabungan & biaya pendidikan anak-anaknya.

15 tahun kemudian Bapak X terserang penyakit stroke yang mengakibatkan dia tidak bisa bekerja lagi. Hal ini juga menyebabkan Bapak X tidak bisa mendapatkan penghasilan. Selain itu, setoran 2 juta/bulan yang biasa dia lakukan untuk tabungan & biaya sekolah anak-anaknya pun otomatis terhenti.

Uang sebesar 2 juta rupiah yang dia sisihkan untuk menabung pun habis untuk biaya pengobatannya. Istrinya yang bekerja sebagai ibu rumah tangga pun mengalami kesulitan untuk mencari pekerjaan demi membiayai sekolah anak-anaknya.

Pelajaran yang bisa kita petik dari ilustrasi di atas adalah Baca selengkapnya..